Hikmat Allah dan hikmat Manusia

2 Feb 20140 komentar

(1 Korintus 1 : 19 - 31) "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah".





Hikmat Allah dan Hikmat Manusia

Dalam umpama orang Batak dikatakan : "Ijuk diparapara, hotang di parlabian. Nabisuk nampuna hata, na oto tu panggadisan". Namun mungkin saja umpama ini tidak semuanya sesuai dengan ajaran Kristen. Misalnya, boleh saja pertanyaan muncul, Mengapa orang bodoh menjadi korban atau dijual ? Sebagai orang yang sudah hidup dalam kasih, orang bodoh tidak bisa menjadi korban. Dia adalah malah harus ditolong dan bukan diperdayakan.
Apakah boleh hikmat yang dimilikinya dipergunakan untuk menjual atau memperdaya orang lain? Apakah itu yang disebut hikmat?
Pertanyaan - pertanyaan yang serupa boleh muncul yang menunjukkan betapa awamnya pemahaman tentang hikmat. Namun bangsa Israel Perjanjian Lama memiliki pemahaman yang lebih sederhana dan tegas tentang hikmat. Bagi mereka, hikmat  selalu berasal dari Allah. Sebagai umat yang percaya maka membangun hidup yang senantiasa berada dalam kehendak Tuhan adalah hal pertama dan utama.
Oleh karena itu, kekuatan dan pemahaman yang jelas yang tidak berasal dari diri sendiri atau dari dunia ini, tetapi hanya dari Tuhan semata.
Apa itu Hikmat ? Hikmat adalah petunjuk ilahi tentang bagaimana hidup, berpola pikir dan berprilaku seturut dengan kehendak Tuhan. Umat Allah Perjanjian Baru sesungguhnya juga punya pemahaman seperti umat Allah Perjanjian Lama.
Dari semuanya itu dapat dikatakan betapa pentingnya mencari hikmat. Dalam nats dikatakan Hikmat Allah dan Hikmat Manusia. Itu berarti Hikmat Allah , yakni hikmat ynag datang dari atas, dan disisi lain ada juga hikmat manusia, yakni hikmat yang datang dari kemampuan berpikir dan berkreasi manusia. Kedua hikmat harus dimaknai, diposisikan, dan dimanifestasikan secara benar. Demikian juga didalam teks.
Dalam hal memahami salib Kristus, Paulus menegaskan harus dilihat dan dipahami dengan Hikmat Allah, tidak boleh dengan hikmat manusia. Apa yang terjadi jika mengandalkan hikmat yang dari dunia ini? Bagi orang Yahudi dan Yunani, salib adalah kebodohan, Salib tidak masuk di akal mereka. Ketika mereka mencari bukti dan mencari tanda, maka salib menjadi kebodohan. Itu sebabnya, kembalilah ke jalan yang benar, yakni menerima salib Kristus dengan hikmat yang daripada Allah.

Renungan :
Coba paparkan berbagai tindakan kita yang hanya mengandalkan kekuatan dan pikiran kita.
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website
Copyright © 2014. Pisscor Berbagi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger