Tuhanlah Benteng Hidupku

26 Jan 20140 komentar


"Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut ? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar ?"

Tuhan adalah benteng hidupku. Inilah kisah seorang pemuda. Ketika saya masih muda, seorang kawan mengajak saya untuk melakukan "saat teduh rutin" bersamanya. Saya tahu bahwa membaca Alkitab, berdoa dan menghadiri kebaktian secara rutin sangatlah penting, dan saya ingin meluangkan waktu bersama Allah, Namun rencana kawan saya itu tidak pernah berhasil saya terapkan.
Saya memang mengikuti rutinitasnya selama satu atau dua minggu, bangun awal setiap pagi untuk membaca Alkitab dan berdoa. Saya menerapkan disiplin itu pada diri saya sendiri, seperti halnya melakukan push-up 50 kali setiap hari. Namun, itu tidak berlangsung lama.
Akhirnya saya menyerah. Saya tidak tahu bagaimana memenuhi kerinduan hati saya untuk meluangkan waktu bersama Allah.
Kemudian suatu hari saya tersentak saat membaca ucapan yang dilontarkan Yesus kepada perempuan di dekat sumur. " Bapa mencari" mereka yang akan menyembah-Nya dalam roh  dan kebenaran (Yohannes 4:23). Saat itulah saya menyadari bahwa Allah-lah yang berinisiatif menaruh kerinduan di dalam hati saya supaya meluangkan waktu bersaman-Nya.
Pemazmur mengatakan bahwa ia menanggapi panggilan Tuhan untuk mencari wajah-Nya (Mazmur 27:28). Gagasan bahwa Allah rindu untuk bersekutu dengan saya yang kini menarik saya kedalam hadirat-nya. Saat teduh saya bersama Allah tidak lagi menjadi kewajiban yang membosankan, melainkan sebagai tanggapan saya kepada Bapa yang rindu meluangkan waktu bersama saya.
Kerinduan hatinya untuk melihat wajah Tuhan merupakan sikap dan kesadaran bahwa Tuhan menjauh dari hidupnya. Kesadaran itu lahir dari perasaan bersalah, perasaan tidak layak, perasaan Allah benar-benar kudus.
Kita sebagai orang berdosa pantaslah Allah menjauh meninggalkan kita. Namun, karena kerinduan hati supaya Allah memperlihatkan wajah-Nya, hal itu berarti Allah akan mengunjungi mereka yang sadar dan mengakui dosanya.

Pemazmur merasakan kesendrian karena ditinggalkan keluarganya, temanya dan sahabat-sahabatnya. Karena itu, harapan satu-satunya adalah Tuhan yang berkenan melihat wajah dan hatinya yang remuk. Dia menggantungkan harapan hanya dari Tuhan sebagai penghibur yang sejati. Amin.
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website
Copyright © 2014. Pisscor Berbagi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger