Karakter yang dipimpin oleh Roh

7 Mei 20120 komentar


"Tetapi kami berlaku ramah diantara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi." (1 Tesalonika 2:7,8)


Robert Chapman adalah seorang guru yang banyak mengetahui isi Alkitab. Mengetahui saja, bagaimanapun, tidak cukup merubah situasi Ebenezer. Kenyataanya, hal itu bisa menjadi kendala. Tetapi Chapman juga memancarkan buah Roh Allah yang ajaib: "Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, pengusaan diri" (Galatia 5:22,23a).
Perpaduan yang indah antara buah Roh yang menyenangkan dan pengajaran Alkitab yang kokoh memperjelas kesuksesan Chapman. Dia adalah campuran beberapa orang yang terdapat dalam Perjanjian Baru, Apolos dan Barnabas. Apolos adalah seorang yang mahir dalam soal-soal Kitab suci, (Kisah para rasul 4:36), dan Alkitab mencatat bahwa Barnabas adalah orang baik penuh dengan Roh Kudus dan iman, (Kisah para rasul 11:24a).

Bertahun-tahun kemudian , Chapman menulis:

"Bagi mereka yang memangku jabatan di Gereja-penginjil, pendeta--bukanlah pengetahuan dan kefasihan berbicara saja yang dibutuhkan: tetapi juga, dan diatas segalanya, anugerah dan (cara hidup) yang tak bercacat".

Tentang pentingya sukacita orang Kristen, dia menulis :

"Sukacita kami dalam Kristus berbicara tentang suatu bahasa yang semua hati dapat dimengerti, dan adalah suatu kesaksian bagi-nya, hanya pengetahuan dan ungkapan seperti itu tidak pernah diberikan".
Para pengkhotbah yang sombong akan dirinya sendiri tentang pengetahuanya dalam Alkitab sering sekali menjadikanya sangat kaku dalam dogma, mengintimidasi, menjauhkan diri atau tidak sabar pada orang banyak. Bahkan banyak orang menyalahgunakan karunia pemberian Allah dalam komunikasi dan pengetahuan untuk menguasai orang banyak dan melayani kebutuhannya sendiri pada akhirnya, seperti Diotrefes yang disebutkan dalam suratan III Yohanes.
Hal ini tidak benar dalam kehidupan Chapman, walau dia mengakui pergumulanya tentang kesombonganya di awal kehidupannya sebagai orang Kristen. Bagaimanapun, setibanya dia di Ebenezer Chapel, pelayanananya dalam pengajaran sudah menunjukkan sikap otoriter maupun seperti seorang yang tidak dapat didekati, dia sungguh sangat luar biasa dekatnya dengan jemaat, sabar, dan mengerti kelemahan-kelemahan mereka.
Kutipan oleh Chapman :
Gambaran balok di mata (Matius 7) menunjukkan keahlian apa dan kelemah-lembutan yang dibutuhkan bagi dia yang akan menegur saudaranya. Yang mempercayakan bagian itu yang sangat mahal seperti mata kepada suatu kekasaran dan tangan-tangan yang tidak trampil.
Chapman tidak pernah berlaku kasar atau gegabah dengan orang. Menjelaskan tentang dia, seorang teman pernah berkata, bahwa Chapman adalah "seorang pemberani seperti Singa dan sangat lembut seperti seorang perawat". Pola dia menolong orang lain adalah cara Tuhan sendiri. "Marilah kita selalu bersyukur", dia berkata untuk kebaikan, kelemah-lembutan, kesabaran diman cara Allah telah membimbing kita bagi kemuliaan.
Kepada salah seorang teman utusan injil dia pernah berkata, "Urusanku adalah untuk mengasihi orang lain, bukan untuk mencari agar orang lain mengasihi saya." Salah satu kata-kata sindiran Chapman yang menunjukkan kasih dan perhatiannya pada orang lain, lebih baik kehilangan dompet daripada tabiat sehingga menjadi marah ?
Chapman selalu memikirkan sisi-sisi yang baik dari seseorang. Sebagi contoh, dia memulai dan menyelesaikan rapat tepat waktu, karena dia menyadari kebanyakan mereka yang datang menghadirinya adalah pembantu-pembantu yang diharapkan akan kembali pada tanggung jawab diwaktu-waktu tertentu. Tidak seperti banyak orang pada jamanya, dia menentukan waktu untuk rapat-rapat konferensi Kristen untuk memenuhi kebutuhan dari mereka yang datang menghadirinya lebih dari keuntungan si pembicara. Dia selalu mengakhiri berbagai pertemuan konferensi tepat waktu untuk memberi kesempatan bagi para peserta supaya mendapat kereta api, yang membawa mereka pulang kerumah.
Kebaikan Chapman tidak akan berkurang sekalipun hal itu menuntut usaha ekstra menjadi bagiannya. Sementara usianya semakin lanjut, tulisan tanganya semakin sulit untuk dibaca. Suatu hari teman sekerjanya William Hake, harus menanyakan Chapman untuk membacakan sebuah catatan yang ditulis oleh Chapman kepadanya: tulisan tangan tersebut begitu jelek sehingga tidak dapat dibaca oleh Hake. Chapman, yang tidak punya untuk menyulitkan mereka yang menerima surat-suratnya, mencari jalan keluar dengan memperbaiki tulisan tanganya. Dengan nada bergurau, dia pernah berkata, "Saya selalu berusaha untuk tidak membuat tukang pos bersumpah."
Abraham Lincoln sekali pernah berkomentar bahwa setiap orang berusia lebih empat puluh tahun berkewajiban untuk memperhatikan mukanya. Wajah Robert Chapman sungguh merefleksikan sukacita dan kebaikan di dalam hatinya. Salah seorang temannya yang menjadi utusan Injil ke Spanyol, Henry Payne mencatat cerita berikut ini :
Tidak heran roman muka Chapman, yang menunjukkan kebaikan hatinya, adalah sangat menolong dia untuk meyakinkan orang yang mendengarnya. Dia berkata kepada saya, satu hari ketika dia duduk di kendaraaan umum di Spanyol, meskipun dia tidak membuka mulutnya, seorang laki-laki dan perempuan mulai cekcok dengan sangat mengerikan dalam bahasa Perancis, dan akhirnya wanita itu berkata, saya sungguh memastikan bahwa saya tidak bersalah sebagaimana tuduhanmu. Saya sama seperti orang yang saleh itu yang duduk dipojok, siapa pun dapat melihat bahwa dia pasti masuk Surga.
Suara Chapman yang begitu mantap menyatakan kehangatan pribadinya dan kasihnya, yang banyak dirasakan dalam ingatan teman-temannya yang mengenang, Saya dapat mendengar suaranya yang penuh kasih walau sekarang ini juga, saya sangat senang melihat kamu, ya,, sangat senang melihat kamu. Selamat datang saudara-saudaraku terkasih.
Seorang Pendeta Church of England, yang pernah menjadi tamu dirumah Chapman, memberikan gambaran kebaikan Chapman dan keramahanya pada tahunp-tahun terakhir ketika banyak orang semakin tidak sabar dan gampang tersinggung:
Pada akhirnya Tuan Chapman masuk, seorang yang bertubuh kekar berusian kira-kira tujuh puluh tahun dengan rambut yang sudah memutih, berjanggut dan berkumis, kelihatan seperti Musa, dan Tuan Hake mengikutinya, lebih tinggi tetapi sedikit membungkuk, tua dan kurus , dan menderita. Dia mengingatkan saya pada Harun, orang suci Tuhan. Sambutan yang sangat hangat dari kedua saudara tersebut dan saya mendengarkan bagaimana orang yang mempunyai reputasi sesuci itu dalam pertcakapan--bagaiamana mereka berbeda dengan orang lain. Seorang baby yang berada dipangkuan ibunya mulai menangis dengan sangat kerasnya, dan saya agak terganggu untuk memotong percakapan. Kedua-duanya tuan Chapman dan tuan Hake berbicara kepada ibu itu dengan penuh perhatian dan kelembutan, dan segera bayi tersebut tertidur. Inilah pelajaran pertama saya dalam seni kasih.
Bagi seorang pria yang belum menikah, Chapman sangat efektif dalam mengajar anak-anak. Wataknya yang periang, mirip anak-anak membuatnya menjadi sangat terkenal di kalangan anak-anak, dan dia juga menunjukkan rasa iba terhadap kebutuhan rohani, mereka sama seperti kebutuhan kepada orang-orang dewasa. Menjelaskan pentingnya tanggung jawab seorang bapak mengajar anaknya,

Chapman berkata:
 "Lebih banyak kemuliaan dibawa kepada Allah melalui seseorang yang memerintah keluarganya seturut dengan Kristus, daripada seorang Raja memerintah satu kerajaaan."

Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website
Copyright © 2014. Pisscor Berbagi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger